Psikologi Hijrah
Hijrah memang bermakna pindah dari suatu keadaan kepada keadaan lain
Kata hijrah sempat menjadi tren dalam lima tahun terakhir dengan makna baru beralihnya seorang atau sekelompok orang yang dikenal sebelumnya sebagai pesohor menjadi seorang penggiat dakwah.
Media TV menggiring penyempitan makna hijrah dengan menampilkan cuplikan segmen hidup sang selebriti sebelumnya yang kelam, bergelimang dosa dan cuplikan kehidupan kini yang terang benderang dan tenang. Fragmen yang digambarkan media juga menelisik gaya hidup sang pesohor dari mulai penggunaan busana hingga penggunaan kata dan istilah yang mereka gunakan.
Hijrah memang bermakna pindah dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Hijrah pun bermakna transformasi alias beralih bentuk dari suatu bentuk awal ke bentuk baru. Hijrah juga bermakna berubah dalam berbagai dimensi.
Pada dasarnya manusia itu senang begini-begini aja alias malas dan enggan untuk berubah. Manusia umumnya ya senang di area enggak maju enggak mundur, enggak ke situ enggak ke sana, enggak perlu repot nggak perlu cape. Bagi manusia seperti ini jelas hijrah akan dirasa sebagai siksa, malapetaka, bala dan sengsara.
Baca juga: Yuk Hijrah Secara Growth Mindset
Bila kita susuri kata hijrah dari peristiwa Rasulullah Nabi Muhammad Saw, maka hijrah perlu ada:
- niat yang jelas,
- tujuan,
- keadaan mendesak,
- teman perjalanan,
- penolong.
Niat yang jelas untuk hijrah adalah terpenting, karena ia akan menjadi pusat seluruh fokus perhatian, pikiran, dan usaha. Niat tidak hanya dengan menyatakan saya ingin hijrah menjadi apa, juga demi apa. Demi apa ini adalah unsur yang menguatkan niat. Ada orang berubah demi pacar, ada orang berubah demi dendam, ada orang berubah demi kuasa. Demi itulah yang menggerakkan mereka. Manusia adalah makhluk yang tergerak melakukan sesuatu karena alasan.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

