Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian

Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, kata Ibnul Qayyim

Waktu mempunyai karakteristik yang istimewa, ia berjalan laksana awan dan lari bagaikan angin, baik waktu senang atau suka ria maupun saat susah atau duka cita.

Baca juga: 5 Hal yang bisa Menguras Energi dan Waktu

Apabila yang sedang dihayati itu hari-hari gembira, maka lewatnya masa itu terasa lebih cepat, sedangkan jika yang sedang dihayati itu waktu prihatin, maka lewatnya masa-masa itu terasa lambat.

Namun pada hakikatnya tidaklah demikian, karena perasaan tersebut hanyalah perasaan orang yang sedang menghayati masa itu sendiri.

Setiap hari yang berlalu, setiap jam yang habis dan setiap kejapan mata yang telah lewat, tidak mungkin dapat dikembalikan lagi dan tidak mungkin dapat diganti. Itulah yang diucapkan Hasan al-Bashri dengan kata-katanya yang penuh nilai sastra.

“Tiada hari yang terbelah waktu fajarnya, melainkan ada seruan: Hai anak Adam! Aku ini makhluk yang baru. Aku melihat amal perbuatanmu. Carilah bekal melalui aku. Jika aku telah berlalu, aku tidak kembali sampai hari kiamat”.

Orang yang beriman selayaknya dapat mengonsep waktunya dengan baik dalam berbagai aktivitas. Yaitu dalam melakukan kewajiban-kewajibannya, dan berbagai macam amal perbuatan baik yang berkaitan dengan aspek keagamaan ataupun keduniaan.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi