Membuka Ruang, Menjaga Akar
Literasi, keterbukaan dan regenerasi dalam perjalanan sebuah komunitas spiritual menghadapi perubahan zaman
Sebuah ruang belajar tidak selalu harus dimulai dengan gagasan besar. Terkadang, ia berawal dari satu pertemuan sederhana, ketika orang-orang dengan usia, pengalaman, dan latar belakang berbeda duduk bersama untuk mempelajari sesuatu.
Pertemuan perdana Ruang Rona Writing Masterclass: From Thought to Words menjadi salah satu contoh kecil dari kemungkinan tersebut. Sebanyak 25 peserta hadir, mulai dari usia 20 hingga 75 tahun. Mereka datang dari berbagai profesi dan lingkungan, termasuk seorang peserta non-Muslim yang tertarik mengikuti kelas menulis.
Perbedaan itu tidak menjadi penghalang. Mereka dipertemukan oleh satu kebutuhan yang sama: belajar mengolah pikiran menjadi tulisan.
Bagi saya, pertemuan tersebut bukan sekadar penyelenggaraan kelas pertama. Ia memperlihatkan bahwa ruang belajar dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan generasi yang berbeda. Sebuah komunitas dapat membuka diri terhadap lingkungan yang lebih luas tanpa harus kehilangan nilai-nilai yang menjadi akarnya.
Ketika Kelas Selesai, Proses Menulis Berlanjut
Dalam kelas tersebut, saya berbagi pengalaman sebagai praktisi kepenulisan. Saya tidak datang untuk menyampaikan teori secara akademis, melainkan mengajak peserta memahami proses yang selama ini saya jalani: bagaimana menemukan gagasan dari hal-hal di sekitar, mengolahnya menjadi tulisan, membaca kembali, kemudian memperbaikinya.
Bagi saya, menulis bukan sekadar materi yang disampaikan di dalam kelas. Apa yang dibagikan kepada peserta merupakan bagian dari proses yang juga saya praktikkan.
Karena itu, ketika sesi pertama Ruang Rona berakhir, proses tersebut tidak ikut selesai ketika peserta meninggalkan ruangan. Saya justru melanjutkannya dengan menulis artikel ini untuk TQN News.
Baca juga: Lina Rasyid: Ruang Rona, Tempat Perempuan Kembali Menemukan Ruangnya
Pengalaman selama kelas, percakapan, pengamatan, serta pemikiran yang muncul dari berbagai perspektif menjadi bahan untuk diolah menjadi sebuah tulisan. Saya mendengarkan, mencatat hal-hal yang relevan, menghubungkan gagasan, lalu menyusunnya kembali dalam sebuah narasi. Salah satu perspektif yang saya bawa ke dalam refleksi ini datang dari sesi editorial bersama Saepulloh “Si Kasep”, Pemimpin Redaksi TQN News, yang menjadi narasumber kedua dalam masterclass.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

