Lina Rasyid: Ruang Rona, Tempat Perempuan Kembali Menemukan Ruangnya

Di antara kesibukan mengurus keluarga, berorganisasi, dan hadir untuk orang lain,

Di antara kesibukan mengurus keluarga, berorganisasi, dan hadir untuk orang lain, perempuan sering kali lupa menyediakan ruang bagi dirinya sendiri. Dari kebutuhan sederhana itulah Ruang Rona lahir.

Ada perempuan yang begitu terbiasa mengurus segala sesuatu sampai lupa kapan terakhir kali ia melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.

Pagi dimulai dengan urusan rumah. Siang berganti dengan pekerjaan, keluarga, atau kegiatan komunitas. Belum selesai satu tanggung jawab, tanggung jawab lain sudah menunggu. Begitu terus, sampai kesibukan terasa seperti bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan.

Di tengah semua itu, kapan seorang perempuan punya kesempatan untuk berhenti sebentar? Bukan karena tidak sanggup melanjutkan kegiatannya, melainkan karena ingin kembali mendengar apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya sendiri.

Pertanyaan semacam inilah yang mengiringi lahirnya Ruang Rona, sebuah inisiatif dari Ibu Bella Perwakilan Jakarta.

Bagi Hajjah Lina Rasyid, yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan komunitas, gagasan tersebut datang dari sesuatu yang ia lihat berulang kali.

“Dari pengalaman saya ikut di beberapa organisasi, saya melihat ibu-ibu kita ini semuanya kuat, setia, luar biasa. Tapi di balik kuatnya itu banyak yang memendam lelah.”

Lina melihat begitu banyak perempuan dengan kemampuan dan pengalaman yang menarik. Ada yang kreatif, ada yang pandai mengelola berbagai urusan, ada pula yang menyimpan cerita hidup luar biasa. Namun, tidak semuanya memiliki kesempatan untuk mengembangkan sisi dirinya di luar tanggung jawab sehari-hari.

“Kegiatan komunitas sudah banyak, tapi ruang untuk dirinya sendiri sebagai perempuan itu belum ada. Padahal potensinya besar sekali, banyak yang kreatif dan pintar.”

Ia pun membayangkan sebuah ruang kecil. Tidak harus megah, tidak harus menjadi kegiatan besar. Cukup sebuah tempat di mana perempuan bisa kembali menemukan hal-hal yang membuat dirinya merasa hidup.

“Dari situ saya ingin ada satu ruang kecil untuk mengembalikan rona bahagia itu, bukan untuk menambah beban.”

Dan menurut Lina, kebutuhan semacam ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan di lingkungan komunitasnya. Bisa jadi banyak perempuan lain di luar sana merasakan hal yang sama.

Tidak Semua Pertemuan Harus Menjadi Kewajiban

Selama bertahun-tahun, kegiatan komunitas telah menjadi bagian dari kehidupan banyak perempuan. Ada pertemuan, pengajian, kegiatan sosial, dan berbagai kesempatan untuk berkhidmat bersama.

Lina tidak melihat ada yang salah dengan semua itu. Justru dari kegiatan-kegiatan tersebut, banyak hubungan dan pengalaman berharga tumbuh. Tetapi ia juga melihat kebutuhan yang berbeda.

“Kalau di komunitas kita biasanya belajar untuk bersama, bertumbuh bersama, berkhidmat. Itu sudah indah. Tapi ibu juga butuh ruang untuk dirinya sendiri.”

Ruang untuk bertanya tanpa khawatir pertanyaannya dianggap sepele. Ruang untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan. Bahkan ruang untuk mengaku tidak tahu, tanpa merasa harus selalu menjadi orang yang mampu menjawab segala hal.

Sebab, tidak semua proses belajar harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang seseorang hanya membutuhkan teman duduk, percakapan yang menyenangkan, dan kesempatan untuk mencoba.

Lina percaya, perempuan yang masih memiliki ruang untuk belajar dan merasa bahagia akan membawa pengaruh baik bagi kehidupan di sekitarnya, termasuk keluarganya.

Sebuah Ruang Jeda

Ada satu ungkapan yang dipilih Lina ketika diminta menjelaskan apa arti Ruang Rona baginya: ruang jeda.

Di usia yang semakin matang, ketika ia mulai lebih banyak memberikan tempat bagi generasi muda, Lina justru semakin memahami pentingnya berhenti sejenak.

Bukan berhenti berkegiatan. Bukan pula meninggalkan tanggung jawab. Melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati proses yang selama ini mungkin terlewatkan.

“Kalau kegiatan biasa kita sibuk melaksanakan acara, kalau di Ruang Rona kita sibuk memulihkan diri.”

Karena itu, ia tidak membayangkan Ruang Rona sebagai tempat seseorang datang untuk digurui. Ia ingin orang-orang bisa bertemu tanpa harus merasa lebih hebat atau lebih tertinggal dari yang lain.

“Tidak ada yang menggurui, kita hanya saling menemani dengan lampah kecil yang beres.”

Ada sesuatu yang menarik dari cara Lina memandang sebuah kegiatan. Baginya, keberhasilan tidak selalu harus terlihat dari ramainya acara atau besarnya pencapaian. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan baik pun punya arti.

Mengapa Menulis?

Ketika Ruang Rona mulai disiapkan, kegiatan pertama yang dipilih adalah Writing Masterclass: From Thought to Words, yang akan berlangsung pada 31 Oktober 2026.

Mengapa menulis? Jawaban Lina sederhana.

“Karena semua ibu itu sebenarnya penulis, hanya belum dituliskan.”

Setiap perempuan punya cerita. Tentang masa kecilnya, keluarga, pekerjaan, pertemanan, perjalanan hidup, atau hal-hal kecil yang hanya ia sendiri ingat. Ada pengalaman yang membuatnya tertawa, ada pula yang baru bisa dipahami setelah bertahun-tahun berlalu.

Sayangnya, banyak cerita berhenti sebagai ingatan atau percakapan sehari-hari.

“Setiap hari ada ribuan pikiran di kepala kita. Kalau tidak ditulis jadi beban, kalau ditulis jadi cahaya.”

Bagi Lina, menulis bisa menjadi cara sederhana untuk mengurai pikiran dan mengenali pengalaman sendiri. Ia menyebutnya sebagai bentuk terapi yang murah, sesuatu yang dapat dilakukan tanpa harus memiliki kemampuan bahasa yang istimewa.

“Tidak harus pintar bahasa, cukup jujur. Dan pengalaman ibu kalau ditulis bisa jadi bekal berharga buat anak cucu.”

Itulah mengapa kelas perdana Ruang Rona tidak dirancang untuk menjanjikan bahwa setiap peserta akan pulang sebagai penulis profesional.

Melalui From Thought to Words, peserta akan diajak mencari bahan tulisan dari kehidupan sehari-hari, memilih satu gagasan, memberinya struktur, lalu mulai menuliskannya.

Tidak perlu menunggu pengalaman yang luar biasa. Tidak perlu pula merasa harus memiliki gaya bahasa yang indah sejak kalimat pertama. Yang penting, berani memulai.

Satu Kalimat Jujur

Ketika ditanya apa yang ingin ia lihat dari peserta setelah mengikuti Writing Masterclass, Lina tidak menyebut buku, penghargaan, ataupun karya yang harus segera diterbitkan.

“Saya tidak berharap peserta langsung jadi penulis buku. Harapan saya sederhana saja, pulang dari kelas mereka berani menulis satu kalimat jujur tentang dirinya hari ini.”

Satu kalimat. Bagi seseorang yang belum pernah mencoba menuliskan pikirannya, barangkali itu sudah merupakan langkah yang cukup besar.

“Kalau sudah berani satu kalimat, besok akan berani dua kalimat. Bekalnya bukan sertifikat, tapi keberanian untuk bercerita. Karena setiap ibu punya cerita yang layak didengar.”

Ada harapan lain yang tersimpan di balik gagasan itu: agar pengalaman perempuan tidak selalu berhenti sebagai cerita yang hanya didengar oleh orang-orang terdekatnya.

Siapa tahu, dari satu kalimat muncul satu halaman. Dari satu halaman lahir sebuah tulisan. Dan dari sebuah tulisan, seseorang menemukan cara baru untuk memahami dirinya.

Beranda yang Pintunya Selalu Terbuka

Menulis hanyalah permulaan.

Lina membayangkan Ruang Rona kelak memiliki banyak bentuk kegiatan. Mungkin suatu hari membicarakan cara memahami Gen Z. Di kesempatan lain, belajar mengelola keuangan sehari-hari, berolahraga bersama, atau sekadar membicarakan cara merawat hati yang lelah.

Topiknya boleh berubah. Orang-orang yang datang pun tidak harus selalu sama.

“Saya membayangkan Ruang Rona seperti beranda rumah yang pintunya selalu terbuka, siapa pun boleh mampir.”

Ia juga tidak ingin ruang ini hanya diperuntukkan bagi perempuan seusianya.

“Saya ingin Ruang Rona tidak hanya milik perempuan senja, tapi milik semua perempuan tanpa batas umur, dan ruang untuk semua yang ingin punya ruang, yang butuh teman untuk tumbuh pelan-pelan.”

Barangkali itulah gambaran yang paling dekat dengan cita-cita Ruang Rona: sebuah beranda tempat generasi yang berbeda bisa saling bertemu. Yang lebih tua membawa pengalaman. Yang lebih muda datang dengan pertanyaan dan sudut pandang baru. Keduanya punya sesuatu untuk dibagikan.

Tidak harus selalu ada jawaban. Tidak harus selalu menghasilkan sesuatu yang besar.

Cukup ada ruang untuk datang, duduk, belajar, dan merasa diterima.

Lina menutup harapannya dengan prinsip sederhana yang juga menjadi bagian dari nilai yang ingin dibawa melalui Ruang Rona.

“Tidak harus besar, yang penting lampahnya beres.”

Tentang Ruang Rona

Ruang Rona merupakan inisiatif Ibu Bella Perwakilan Jakarta bersama TQN News, dengan pengembangan strategi dan kreatif oleh Echo Studio.

Program perdananya, Writing Masterclass: From Thought to Words, akan diselenggarakan pada Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 09.00–13.00 WIB, di Kopi Kotak Tebet, Jakarta Selatan.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi