Kiai Wahfi: Program Kerja LDTQN Mesti “SMART”

Dalam manajemen modern lazim dikenal istilah SMART untuk membuat perencanaan

Program dikembangkan secara terukur tujuan yang hendak dicapai; terukur jumlah dan kriteria target pesertanya; terukur anggaran pembiayaan serta sumber dan jumlah pendanaannya; serta terukur waktu dan tahap-tahap pelaksanaannya (ada jadwal yang terukur).

A = achievable. Program yang dibuat memang jelas dapat dicapai tujuannya, dapat diraih pesertanya, dapat didanai, dan dapat dilaksanakan pada waktunya.

Membuat program “Menyelenggarakan Manaqib Di Masjidil Haram (Makkah)” adalah contoh program yang tidak achievable. Kreatifitas memang bermula dari impian dan imajinasi, namun silakan berimajinasi hingga detail, lengkap dengan cara-cara mewujudkannya, agar tidak menjadi sekadar impian kosong.

Baca juga: Sejarah, Visi dan Tujuan LDTQN Pontren Suryalaya

R = realistic. Ada realitas alam, realitas budaya, realitas ekonomi, realitas politik, termasuk realitas pandemi, serta realitas-realitas lainnya.

Realitas tak dapat diingkari. Adalah realitas bahwa hampir seluruh ikhwan TQN berasal dari kelas sosial ekonomi bawah yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh, petani, pedagang kecil, bahkan pengangguran.

Maka membuat program “Membangun Sistem Jejaring Digital Pada Setiap Majelis Manaqib” adalah sesuatu yang tidak realistis. Akan lebih realistis bila dikembangkan program-program yang memperkuat ekonomi ikhwan seperti: perkebunan hidroponik, peternakan lele keluarga, pembuatan abon ikan, pengembangan digital marketplace.

T = timely. Faktor waktu harus diperhitungkan betul, karena orang hanya menggunakan sisa-sisa waktunya untuk organisasi sosial. Menjadi pegawai negara (ASN) jelas memiliki jalur karir, jenjang kepangkatan, gaji yang teratur  serta anggaran yang didanai dari pajak.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi