Kembalinya TQN ke Tanah Leluhur

Fath al-‘Arifîn yang merupakan kompilasi ceramah-ceramahnya terkait TQN

Yang terkenang hingga kini di hati jutaan umat Islam nusantara adalah, beliau pendiri Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Thariqah yang didirikannya itu kini menjadi anutan jutaan umat Islam di Indonesia, bahkan hingga seantero dunia Islam Asia Tenggara.

Menurut penelitian Martin van Bruinessen, sebagai seorang mursyid beliau memiliki banyak murid terutama orang-orang nusantara yang berhaji sekaligus belajar ke Makkah. Di antara mereka ada yang beliau angkat sebagai khalifah (wakil) yang diberikan wewenang untuk menyebarkan ajaran-ajaran tasawufnya ke daerah masing-masing.

Di antaranya adalah Syaikh Abdul Karim dari Banten, Syaikh Thalhah dari Cirebon dan Syaikh Hasbullah bin Muhammad dari Madura, Syaikh Muhammad Isma’il bin Abdul Rahim dari Bali, Syaikh Yasin dari Kedah (Malaysia), dan Syaikh Muhammad Ma’ruf bin Abdul Khatib dari Palembang.

Di antara nama-nama itu, tiga yang pertama adalah yang silsilah pengajarannya masih bersambung hingga hari ini dan menyebar ke seantero nusantara. Syaikh Yasin sendiri yang kemudian tinggal di Mempawah, Kalimantan Barat, jejak pengajarannya tidak banyak diketahui. TQN justru mengakar di Jawa melalui silsilah pengajaran Syaikh Abdul Karim, Syaikh Thalhah dan Syaikh Ahmad Hasbullah.

Hingga satu setengah abad lebih sejak wafatnya Syaikh Ahmad Khatib, TQN tak kunjung banyak dikenal masyarakat Sambas. Namun kini, thariqah ini sudah dikenal luas tokoh dan masyarakat Sambas, terutama TQN Suryalaya di bawah bimbingan mursyid Abah Anom (Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul’arifin). Abah Anom adalah murid dan penerus jubah kemursyidan Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang merupakan murid terbaik Syaikh Thalhah dari Cirebon.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi