Keluarga dan Keturunan Abah Sepuh

Abdullah Mubarok (Abah Sepuh) lahir 1836, tekuni TQN, gemar ilmu, berdedikasi tinggi

Tidak ada informasi mengenai hal-hal yang sangat istimewa pada Abdullah Mubarok kecil. Hanya diketahui bahwa ia mempunyai kegemaran belajar. Pada usia anak itu ia suka belajar ngaji Kitab Al Qur’an, belajar shalat dan dasar-dasar ilmu agama, termasuk Ushuluddin dan Fiqh, dari orang tuanya sendiri. Sejalan dengan itu, ia pun suka belajar praktek shalat fardhu secara berjamaah, dan shalat sunnat atau membaca kalimah-kalimah pujian kepada Allah Swt dan shalawat bagi Muhammad Rasulullah Saw.

Ternyata bukan belajar ilmu dan soal agama saja yang digemarinya sejak usia anak hingga usia mudanya. Ia pun gemar belajar memasyarakat, khususnya dalam rangka membantu orang tua, atau famili, atau anggota masyarakat sekampung dalam menyelesaikan pekerjaannya. Sejalan dengan yang terakhir ini, Abdullah Mubarok muda gemar belajar bercocok tanam, bertani, belajar menjala ikan, belajar menyumpit burung, belajar menangkap binatang buruan.

Dari sikap dan perilakunya dapat diketahui bahwa sejak kecil Abdullah Mubarok memang telah menunjukkan suatu tingkat kemampuan belajar yang tinggi dan bersungguh sungguh. Hasil belajarnya diterapkan dengan jujur dan berdisiplin. Ada kemauan hidup yang kuat, ada kesiapan disiplin diri, ada orientasi kerja sama dan pengabdian kepada dunia luar atau masyarakat. Jika ditelaah, ia memiliki semangat thalabul ‘ilmi dan riyadhah ‘amaliyyah yang kuat.

Baca juga: Ki Hirup Khutbah Fenomenal Karya Abah Sepuh

Setelah menginjak usia baligh, pemuda Abdullah Mubarok dikirim oleh orang tuanya untuk ngaji dan mesantren, antara lain ke pesantren Sukamiskin, Kabupaten Bandung. Di sini yang dipelajarinya terutama ilmu Fiqh dan ilmu-ilmu alat. Dalam perjalanan hidupnya yang makin dewasa, ia makin lebih tertarik untuk mempelajari ilmu tasawuf dan thariqat. Bidang thariqatlah yang akhirnya menjadi pilihan khususiyyah-nya (spesialisasinya).

Bidang spesialisasi dalam TQN beliau tekuni pada guru-gurunya, antara lain Syekh Thalhah di Desa Kalisapu (kampung Kholwat) dan di kampung Trusmi wilayah Cirebon, dan kedua Syekh Kholil di Madura. Kedua guru itu dikenal sebagai guru TQN besar pada zamannya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi