Kaya Bersyukur atau Fakir Bersabar, Mana Yang Lebih Utama?

Ada perbedaan pendapat antara ulama dan aulia menyangkut hal tersebut

Adapun pandangan Syekh Yusri terhadap dua pendapat tersebut ialah dengan menghimpun pendapat keduanya yakni dengan mengatakan “Apa yang ditakdirkan untukmu, itulah yang lebih baik bagi dirimu.”

“Sebagian hamba-Ku ada yang tidak cocok kecuali kaya. Apabila Aku miskinkan, dia jadi rusak. Sebagian hamba-Ku ada yang tidak cocok kecuali fakir sehingga jika kaya justru dia jadi rusak,” jelas penyusun kitab Al Futuhat Al Yusriyah tersebut.

Orang fakir yang ditakdirkan fakir, tambahnya, jangan berandai-andai menjadi kaya, karena boleh jadi seandainya jadi kaya, dia mungkin akan menjadi orang jahat.

Baca juga: Ibnu Mubarak, Sufi Dermawan yang Melunasi Hutang Pemuda

Biarkan dia dalam kefakirannya, duduk berzikir memegang tasbih, duduk di masjid Sayyid Ahmad ad-Dardiry dan menghadiri kajian kitab Shahih al-Bukhari misalnya.

Karena boleh jadi seandainya Allah Swt memberikan banyak harta kepadanya, dia mungkin saja duduk di dekat seorang penari perempuan, di depannya ada gelas khamar sambil bermain judi.

Maka titik temu dari kedua pendapat antara ulama dan aulia terkait pertanyaan di atas terletak pada keridhaan atas apa yang ditakdirkan Allah Swt bagi seseorang. Bukan lagi melihat kaya yang bersyukur atau fakir yang bersabar.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi