Ilmu Tanpa Amal Bagaikan Jasad Tanpa Ruh

Nasihat itu mudah tapi menerimanya yang tidak mudah terlebih lagi mengamalkannya. Inilah problemnya, sebagaimana disampaikan Imam Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad.

Manusia yang menuruti hawa nafsunya ketika diberi nasihat akan merasa pahit untuk menerima dan menjalankannya.

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Nabi Saw bersabda: surga diliputi hal yang tidak disukai, dan neraka diliputi hal-hal yang disukai syahwat. (HR. Muslim)

Orang yang menuruti hawa nafsunya memang cenderung menyukai hal-hal yang justru dilarang. Dalam hadis di atas dijelaskan bahwa surga tidak bisa diraih kecuali bagi orang yang melakukan hal-hal yang tidak disukainya.

Baca juga: Pesan Abah Anom Agar Pengamal TQN Belajar Ilmu Keislaman

Bersungguh-sungguh dalam beribadah, istiqamah beribadah, sabar menjalankan ibadah, menahan amarah, memaafkan sesama, sedekah, berbuat baik kepada orang yang menyakiti, bersabar menahan syahwat itu semua termasuk hal yang tidak kita sukai.

Sebaliknya neraka akan diganjar bagi mereka yang melakukan hal yang disukai syahwatnya. Syahwat ada yang sifatnya haram seperti minum khamr, zina, memandang perempuan yang bukan mahram, ghibah dan lainnya.

Ada pula syahwat mubah yang tidak masuk kategori haram tapi jika terlalu banyak dikerjakan bisa mengeraskan qalbu, dan melalaikan kewajiban, contohnya seperti bermain gadget secara berlebihan.

Imam Ghazali mengkritik orang yang mencari ilmu tapi tidak untuk diamalkan, hanya menumpuk ilmunya dan merasa cukup dengan itu, sebagai wasilah kesuksesan dan keselamatan. Terlebih lagi hanya mencari gelar, pangkat dan kedudukan di masyarakat untuk kesenangan dan kepentingan pribadi.

Baca juga: Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Dahulukan Ilmu Baru Amal

Ilmu adalah jasad, dan pengamalan adalah ruhnya. Jasad tanpa ruh maka tiada faidahnya. Ilmu tidak boleh kosong dari amal. Itulah mengapa Nabi Saw mengecam orang yang tidak mengamalkan ilmunya.

إن أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه

Sungguh yang paling berat siksanya pada hari kiamat ialah orang berilmu yang tidak memanfaatkan ilmunya. (Dalam Mu’jam Al Awsath at Thabrani dan Syuabil Iman Al Baihaqi)

Jika seorang Filsuf hanya senang berbicara satu persoalan dengan pembahasan yang luas tetapi tidak diamalkan. Maka Islam mengajarkan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Berbeda dengan para ahli filsafat, kita belajar ilmu sebagai wasilah untuk mendekat pada Allah (taqarrub ila Allah). Dan kita tidak sampai kepada Allah kecuali dengan ilmu dan amal.

Baca juga: Jangan Sembarang Mengaku Sufi, Tasawuf Itu Ilmu dan Amal

Oleh karenanya jangan hanya senang dengan kalam hukama (ucapan ahli hikmah), atau qaulul ulama’ (ucapan ulama). Karena ilmu tanpa amal bagaikan jasad tanpa ruh. Amal tanpa ilmu tidak diterima karena ada kebodohan di dalamnya.

Kitab sungguh tidak bisa memberikan manfaat dengan ilmu yang ada di dalamnya. Lalu siapa yang bisa memanfaatkan ilmu yang di dalamnya? Dia yang membaca dan mengkajinya. Dia yang mengamalkannya.

العلم بلا عمل كشجر بلا ثمر

Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.

Apa faidahnya buah jeruk kalau tidak berbuah jeruk? Ada sebuah ungkapan, penuntut ilmu yang tidak mengamalkan ilmu yang dipelajarinya, maka ilmu itu akan menjadi pengkritiknya yang menyebabkan ia celaka pada hari kiamat nanti.

Karena ilmu akan datang pada hari kiamat syahidun ‘ala shahibihi (sebagai saksi atas pemiliknya). Orang yang hanya menumpuk ilmu diibaratkan keledai yang memangul kitab di punggungnya, demikian penjelasan dari Syekh Hisyam Kamil Al Azhari.

Baca juga: Ajengan Citungku: Tarekat Sufi Ilmu yang Paling Mulia

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ يَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. [Surah Al-Jumu’ah: 5]

Di sinilah pentingnya penggabungan antara ilmu dan amal. Ilmu amaliah, amal ilmiah.

Rekomendasi