Guru Marzuki, Gurunya Ulama Betawi

Guru Marzuki, ulama Betawi pendiri NU Jakarta dan guru dari banyak tokoh pesantren

Sekembali ke tanah air, Sayyid Usman Banahasan memintanya mengajar di Masjid Jami’ul Anwar Rawabangke pada 1332 H. Seterusnya ia menggantikan Sayyid Usman mengajar hingga Sayyid Usman wafat.

Pada 1340 H Guru Marzuki pindah ke Kampung Muara (Cipingan Muara). Di sinilah ia merintis berdirinya pesantren di tanah miliknya yang cukup luas. Santri yang bermukimpun tidak banyak, kira-kira sekitar 50 orang.

Cara mengajar Guru Marzuki terbilang unik, yaitu sambil berjalan di kebun dan berburu bajing (tupai). Ke mana sang guru melangkah, ke sana pula santri mengikutinya dalam formasi kelompok. Setiap kelompok biasanya terdiri dari empat atau lima orang yang belajar kitab yang sama. Seorang diantaranya bertindak sebagai juru baca.

Sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setiap satu kelompok selesai belajar, kelompok yang lain belajar kitab lain menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.

Mengajar dengan cara duduk dilakukan hanya untuk masyarakat umum di Masjid. Meskipun demikan, para santri juga ikut bergabung di sini, malahan beberapa santri bergiliran membaca sebagian isi kitab untuk sang guru.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi