Fithri dan Fithrah

Di penghujung Ramadhan ada dua kata yang populer yaitu fithri dan fithrah

Fithrah yang ada pada manusia berasal dari fithrah Allah. “…Fithrah Allah, yang Allah mencipta manusia berdasarkan fithrah itu pula…” (QS. ar-Rum / 30:30). Manusia tidak dicipta oleh Allah dalam keadaan blank, kosong tanpa makna, tujuan, atau juga kemampuan. Sejak terlahirnya manusia sudah membawa misi dan tujuan hidup, juga sudah dibekali potensi-potensi dasar seperti kesadaran moral, perasaa cinta kasih, kecerdasan intelektual, bibit iman dan kemauan (iradah). Semua itu adalah fithrah yang diberikan oleh Allah.

“Tak seorang bayi pun terlahir kecuali ia dilahirkan berdasarkan fithrah” begitu kata Nabi Muhammad SAW. Manakala manusia mampu mengembangkan ‘fithrah Allah’ itu maka akan terbentuklah ‘akhlak Allah’ pada dirinya. “Takhallaqu bi akhlaqillah, berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah…” begitu kata Nabi SAW dalam sebuah hadisnya yang indah. Mengapa bisa demikian? Karena di dalam diri kalian sudah ada ‘fithrah Allah’, dan kalian pun dihadiran di muka bumi untuk menjadi wakil Allah atau khalifatullah.

Namun sering terjadi sifat-sifat ilahiyah yang ada pada diri kita itu tercemar oleh berbagai dosa dan nista. Akibatnya bukan ‘akhlak Allah’ yang tercermin dari diri kita, tapi akhlak-akhlak lain yang justeru dibenci oleh Allah dan merugikan manusia. Hawa-nafsu dan setan adalah dua tersangka utama yang sering menyebabkan fithrah kita rusak. Maka perlu selalu ada latihan-latihan mengendalikan hawa-nafsu dan membentengi diri dari setan. Itulah Ramadhan.

Di bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu. Di siang hari Ramadhan kita melakukan shiyam dengan menghentikan makan minum, libido, dan perbualan. Di malam-malam Ramadhan kita melakukan qiyam, mengurangi tidur. Itulah latihan untuk tidak mudah memperturutkan hawa-nafsu dengan doyan makan, doyan kawin, doyan ngobrol dan doyan tidur.

Semoga di hari Idul Fithri, hari raya seusai puasa, fithrah kita yang sempat terkubur oleh hawa-nafsu dan tertutupi oleh setan dapat dan fathara lagi, dapat muncul kembali ke permukaan dalam bentuk akhlak ilahiyah yang terpuji. Betulkah demikian? Dapat kita lihat antara lain melalui cara kita melakukan perjalanan mudik lebaran ini. Kesabaran dan keberhati-hatian adalah akhlak ilahiyah, begitu juga santun dan taat peraturan merupakan cerminan fithrah yang suci.

Kita pulang mudik karena kita selalu merindukan asal kita. Kampung halaman, orang tua dan teman-teman semasa kecil terlalu indah untuk dilupakan. Itu semua adalah ‘asal’ kita. Dalam bahasa Arab asal juga bermakna asli. Kita pulang mudik untuk mengenang asal kita sekaligus menjumpai aslinya kita. Terkadang kehidupan kota telah mencemari aslinya kita. Kita sudah tidak asli lagi.

Ada topeng kemunafikan yang kerap menyelubungi wajah kita. Pakaian dan mobil yang indah pun tak mampu menutupi kerusakan akhlak kita. Akhirnya kita letih berpura-pura… Kita rindu untuk pulang ke asal kita yang asli, bukan hanya kampung halaman yang menjadi asal, tapi juga jiwa yang asli yang dicipta oleh Allah dengan cinta. Maka mudiklah dengan cinta yang tulus. Sebagaimana Allah SWT dengan rahman-rahimNya selalu mencintai kita, mari kita cintai semua orang yang ada di sekitar kita.

Diambil dari kajian-kajian KH. Wahfiudin Sakam


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi