Diri yang lemah ini Berusaha Mengetuk Pintu Langit di Malam Nisfu Sya’ban
Amaliah Nisfu Sya’ban sebagai latihan jasad, perekat ukhuwah, dan pembersih ruhani
Di bawah bimbingan yang mulia Syekh Mursyid, Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniah kembali mengingatkan dan mengajak kita bersimpuh dalam amaliah tahunan yang penuh khidmat: Shalat Sunnah Nisfu Sya’ban 100 Rakaat. Sebuah amaliah yang bukan sekadar deretan gerakan fisik, melainkan sebuah perjalanan multidimensi:
1. Jihad Nafsu: Memaksa Diri untuk Patuh
Secara jasmani, 100 rakaat adalah sebuah “pemaksaan” yang lembut. Di saat raga cenderung manja dan malas, kita melatih fisik untuk tunduk sepenuhnya pada titah Allah dan mengikuti jejak sunnah Rasul-Nya, juga Para Mursyid. Inilah cara kita mendidik jasad agar tidak mendikte ruh, melainkan menjadi kendaraan yang patuh dalam ketaatan.
2. Ikatan Sosial: Silaturahmi dalam Saf
Secara sosiologis, amaliah berjamaah ini adalah perekat kasih sayang. Di dalam masjid (berjamaah), sekat-sekat duniawi runtuh. Kita berdiri berdampingan, ruku’ bersama, dan sujud dalam frekuensi yang sama. Ini adalah momentum memperkuat ukhuwah, merajut kembali jalinan sosial Ikhwan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan duniawi.
3. Bekal Perjalanan: Meringankan Beban Ruhani
Secara ruhaniah, setiap rakaat (yg mengandung dzikir) adalah ikhtiar untuk meluruhkan noda-noda hati. Kita sadar betapa berat “barang bawaan” dosa yang kita pikul. Nisfu Sya’ban adalah salah satu terminal untuk bersih diri, mengurangi beban berat dalam perjalanan panjang menuju hadirat-Nya, agar saat melangkah nanti, ruh kita terasa lebih ringan dan bening.
”Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Mari kita hadirkan hati, rendahkan diri, berharap limpahan tajalli-Nya di malam yang penuh ampunan ini.” []
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

