Dengan Ilmu Amaliah, Kisah Mahasiswa Kasim Arifin Melegenda di IPB
Dia disapa sebagai Antua oleh orang Waimital, sebutan bagi orang yang dihormati di Maluku
“Pak Kasim mengingatkan kita bahwa belajar bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun, inilah yang disebut sebagai pembelajar tangguh. Ia memiliki komitmen untuk memberikan manfaat bagi desa. Ia sama-sama belajar sekaligus menginspirasi. Menggerakkan orang lain untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan cita-cita. Ini mahal sekali dan akan terus menginspirasi kita semua di IPB.”
Alumni IPB lainnya yang juga menyusun kembali penulisan buku tentang Kasim, Razaini Taher, mendapat kisah langsung dari Desa Waimital. Menurutnya, Kasim tidak bekerja untuk dirinya sendiri tapi untuk masyarakat. Di desa itu dia tinggal di bekas asrama transmigrasi, tidak punya rumah. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah bertanya. Dia memiliki anak angkat yang dibesarkan sejak remaja hingga menikah.
“Bapak Kasim mencari air di hutan sejauh puluhan kilometer. Setelah saluran airnya ada, harus dijaga, dia sendiri yang ke hutan pada malam hari memeriksa air. Pak Kasim pernah tidak pulang sampai dicari-cari pada malam hari di hutan. Ternyata, dia terjebak perangkap babi hutan. Pak Kasim juga ternyata menjadi guru pengajian dan memprakarsai pembuatan mushola pertama di Waimital,” kisah Razaini Taher.
Ada pepatah Arab mengatakan, “al-Ilmu bilaa ‘amalin kasysyajari bilaa tsamarin”. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tak berbuah. Itulah kisah tentang ilmu amaliah seorang mahasiswa, aktivis, dan pelayan masyarakat, Kasim Arifin yang tak mau menjadi pohon tak berbuah. (berbagai sumber). []
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

