Dengan Ilmu Amaliah, Kisah Mahasiswa Kasim Arifin Melegenda di IPB

Dia disapa sebagai Antua oleh orang Waimital, sebutan bagi orang yang dihormati di Maluku

Sampailah pada panggilan ketiga. Rektor IPB mengirim utusan khusus yang tak lain sahabatnya sendiri, Saleh Widodo. Akhirnya Kasim mau tergerak untuk pulang ke kampus dan menerima gelar insinyur pertanian istimewa.

Bukan karena ia berhasil mempertahankan skripsinya dalam ujian, melainkan karena ia telah menunjukkan baktinya selama 15 tahun tanpa pamrih.

Dari buku Hanna Rambe, dikisahkan Kasim yang biasanya hanya bersandal jepit. Di hari wisuda 22 September 1979 itu terpaksa mengenakan jas, dasi dan sepatu, sumbangan dari teman-temannya.

Taufiq Ismail, penyair Indonesia terkemuka yang juga teman kuliah Kasim, menghadiahinya sebuah puisi, “Syair untuk Seorang Petani dari Waimital”, berikut penggalan puisinya:

“Dari pulau itu, dia telah pulang. Dia yang dikabarkan hilang. Lima belas tahun lamanya. Di Waimital Kasim mencetak harapan. Di kota kita mencetak keluhan. (Aku jadi ingat masa kita diplonco dua puluh dua tahun yang lalu). Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca. Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi. Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku. Ketika aku mengingatmu, Sim.”

Selesai wisuda, Kasim mendapat berbagai tawaran pekerjaan, tapi dia memilih kembali ke desa, ke Waimital. Baru setelah itu, Kasim menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan pensiun tahun 1994.

Kasim pernah mendapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah pada 1982, tapi Kasim yang tidak gila penghargaan, meninggalkan begitu saja piala itu di bawah kursi sampai ada seseorang yang mengantarkan ke rumahnya.

Dalam sebuah diskusi online sesama alumni TPB akhir Desember 2020 lalu, Rektor IPB Prof. Dr. Arif Satria, berkomentar tentang sosok Kasim.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi