Menghadapi COVID-19: Berani Mati atau Ceroboh?

Kiai Wahfi: Taat protokol COVID-19 bukan takut mati, tapi lindungi keluarga dan sesama

Himbauan pemerintah terkait peniadaan shalat Jum’at diganti dengan shalat Zhuhur di rumah, untuk wilayah yang masuk kategori zona merah (telah terpapar virus Corona) menuai pro dan kontra.

Berikut tanggapan KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Ada yang mengatakan, “Saya tidak takut mati. Mati itu sudah ada takdirnya!”

“Kalau begitu mengapa kamu menyeberang jalan harus menengok kiri dan kanan? Kenapa tidak langsung menyeberang saja? Toh soal mati sudah ada takdirnya.”

Baca juga: Songsong Era Iot Fakultas Dakwah IAILM Suryalaya Gelar Kuliah Umum

Menurut Kiai Wahfi, persoalannya bukan mati atau tidak mati. Mati akibat wabah penyakit adalah SYAHID! Tak usah diragukan lagi. Lebih baik kita ikuti himbauan pemerintah.

Kiai Wahfi mengatakan saat ini kita menghadapi persoalan yang sangat serius.

1. COVID-19 menyebar lewat kontak dan kerumunan manusia. Selama 5-19 hari orang yang tertular tidak merasakan gejala apapun, maka mereka tetap bisa melakukan aktivitas seperti bekerja, bergaul. Di sinilah potensi penyebaran COVID-19 ke keluarga, tetangga, sanak famili, dan teman-teman.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi