Meraih Kesempurnaan Ritual
Banyak yang rajin ibadah, tapi miskin kasih, miskin kejujuran. Ritual tak berbuah rahmat
Kesempurnaan Iman
Betapa ironis, seharusnya semakin Islam mengakar di suatu negeri, semakin makmur, teratur dan damai negeri itu. Sebab Islam adalah agama pamungkas, tuntunan sempurna bagi manusia dalam menjalani hidup dan membangun peradaban ideal (baldatun thayyibatun). Rahmat bagi semesta alam. Mendatangkan kedamaian bagi seluruh mahluk. Menawarkan kesejahteraan hidup di dunia dan akherat bagi kaum beriman.
“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan jalan anutan/agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai jalan hidupmu…” (al-Maidah:3).
Maka ketaatan ritual yang tidak membuahkan rahmat adalah ketaatan semu. Hal ini telah diwanti-wanti Rasulullah saw, “Akan datang suatu zaman dimana orang-orang berkumpul di mesjid untuk shalat berjamaah, tetapi tak seorang pun dari mereka yang mukmin,” (Kanz al’Ummal, 3110).
Sejauh ini, shalat berjamaah dan beberapa praktek ritual lainnya memang sering dijadikan indikator ketaatan seseorang. Rasulullah sendiri menjadikannya media kritik, atau pesan tentang keimanan yang sejati. Takni ketaatan ritual yang memiliki dua dimensi: ritualitas dan spiritualitas.
Dimensi ritualitas adalah kedisiplinan seorang Mukmin menjalankan ibadah-ibadah ritual seperti shalat dan puasa. Sedangkan dimensi spiritualitas adalah kemampuan Muslim menggali spirit/semangat dari pelaksanaan setiap sisi ibadah tersebut, serta kemauannya untuk mengamalkan spirit tersebut dalam setiap ucapan, sikap dan tindakannya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

