Anak Yatim dalam Bingkai Keluarga Maslahah

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung sangat lama. Lonceng kematian masih terus berbunyi mengabarkan kepergian orang-orang terkasih. Banyak anak-anak tiba-tiba menjadi yatim atau piatu atau bahkan yatim piatu dalam waktu singkat. Tidak sedikit pula bayi-bayi yang saat lahir sudah yatim.

Kemensos mencatat pandemi setidaknya menambah 11.045 anak yatim. Jumlah ini bisa terus bertambah namun tidak mungkin berkurang. Banyak keluarga menjalani hidup di masa pandemi dengan sulit. Apalagi menghadapinya tanpa orangtua. Menjadi yatim dan atau piatu di masa normal pun sulit, apalagi di masa pandemi. Baca juga…

Keluarga maslahah dibangun di atas cara pandang bahwa nilai manusia di hadapan Allah adalah tergantung sejauh mana komitmen tauhid atau imannya pada Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Dibuktikan dengan perilaku baik pada sesama makhluk-Nya, termasuk manusia, termasuk anak yatim dan atau piatu.

Karenanya, keislaman sebuah keluarga pun tidak hanya ditentukan oleh bagaimana ia bisa memberi kemaslahatan pada seluruh anggota keluarga tanpa kecuali. Tapi juga pda keluarga-keluarga lain, utamanya keluarga yang menghadapi kesulitan seperti karena ditinggal wafat orangtuanya. Baca juga…

Persaudaraan yang diyakini oleh keluarga maslahah tidaklah terbatas oleh ikatan darah, tapi juga sesama muslim, bangsa, dan manusia. Karenanya, anak yatim dan atau piatu yang punya hubungan darah maupun tidak adalah saudara yang perlu disayang dan dibantu.

Al-Quran memberikan perhatian khusus pada anak-anak yatim karena mereka rentan dizalimi. Allah bahkan menegaskan bahwa penghardik anak yatim adalah pendusta agama. Ngakunya beragama toh dianggap pendusta. Rasulullah Saw juga diceritakan dalam banyak hadis sangat menyayangi anak yatim. Beliau sendiri adalah yatim sejak dalam kandungan.

Anak yatim dan atau piatu tidak bisa lagi memiliki orangtua kandung mereka, tapi mereka tetap bisa memiliki figur-figur orangtua dari orang dewasa lainnya. Kita semua tidak hanya bisa berperan sebagai figur orangtua anak-anak kita sendiri. Tetapi juga figur orang tua bagi anak-anak lain termasuk anak yatim. Caranya dengan menjalankan peran-peran sebagai orangtua, baik secara langsung dengan kehadiran fisik, maupun tidak langsung.

Oleh: Nur Rofiah Bil Uzm (Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta)

#yatim #maslahah #pandemi


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
______
Rekomendasi