Meskipun agama sudah disorong-sorongkan oleh para ustadz tapi kalau tingkat kesadaran orang belum dapat memahaminya atau agama yang disorongkan itu memang tidak sesuai dengan kesadaran orang yang menerimanya, maka agama itu tidak akan berarti apa-apa bagi orang itu.
Sebaliknya orang yang sudah tumbuh kesadaran imannya akan mencari dan mengejar-ngejar agama karena menyadari agama itu adalah jalan mudah yang diperlukannya untuk mencapai kebenaran sejati.
Maka semestinya dakwah bermula dari mengusik dan membangkitkan kesadaran iman lebih dulu sebelum ‘mengajarkan’ doktrin-doktrin agama yang rumit. Itu sebabnya ada beda antara dakwah dengan tarbiyah, antara memotivasi dengan menggurui.
We are not human beings having a spiritual experience; we are spiritual beings having a human experience (Teilhard deChardin).
Ya, kita memang bukan makhluk biologis yang di dalamnya ada ruh atau jiwa. Justeru sebaliknya, kita adalah makhluk ruhaniah yang ditempatkan di dalam tubuh biologis. Hal ini pun ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat 1 yang menyebutkan bahwa manusia pada awalnya adalah “belum menjadi sesuatu yang dapat disebut”.
Dalam kitab Sirr al-Asrār yang berisi kumpulan ajaran seorang sufi agung, Syaikh Abdul Qadir al-Jaylani, insan yang “belum menjadi sesuatu yang dapat disebut” itu adalah manusia yang masih berwujud ruh suci (rūh al-quds). Manusia ‘ruh suci’ itu dicipta di alam Lāhūt (alam dimensi ke-Tuhan-an) sebelum diturunkan ke alam Mulki (alam fisik) dan ditempatkan di ‘tubuh biologis kebinatangan’ (basyar). Demikian al-Qur’an surat Shād (38) ayat 71-72 menjelaskan.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

