Tiga Kedudukan Dzikir TQN dalam Miftahus Shudur

Dzikir adalah reformasi diri, karena dzikir dapat mengosongkan qalbu dari hijab-hijab penghalang

Di dalam Mukadimah Miftahus Shudur juz 1, hlm. 2 ditulis tiga kedudukan dzikir (Dzikir TQN Suryalaya), yaitu: Pertama, dzikir merupakan hal utama yang paling agung. Kedua, dzikir merupakan amalan mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama. Ketiga, dzikir merupakan wasilah yang paling mengantarkan seseorang pada wushul ila Allah.

Pertama, dzikir termasuk hal utama yang memiliki keutamaan paling agung. Dzikir nafi dan itsbat merupakan sesuatu yang paling utama dan paling dahsyat efeknya (Miftahus Shudur, juz 1, hlm. 3).

Secara teosentris, dzikir dapat melenyapkan syirik jaliy (jelas) dan syirik khafiy (samar). Dzikir menumbuhkan ketauhidan bukan hanya pada yang diibadahi (la ma’buda illa Allah), namun juga ketauhidan pada tujuan ibadah (la maqshuda illa Allah) dan ketauhidan pada yang dipandang mata hati (la masyhuda illa Allah).

Secara antroposentris, dzikir adalah reformasi diri, karena dzikir dapat mengosongkan qalbu dari hijab-hijab penghalang serta mensucikan jiwa dari karakter negatif dan sifat hewani.

Dibandingkan dengan ilmu, ilmu memang amalan yang paling utama, karena amalan tanpa ilmu maka amalannya ditolak, tidak diterima. Masalahnya, untuk mengubah ilmu menjadi amal, seseorang kadang berhadapan dengan karakter negatif, seperti malas dan serakah.

Baca juga: Tarekat Metode Mengobati Penyakit Munafik

Ilmu dapat mengetahui bahwa sifat malas itu tidak baik dan bahaya. Akan tetapi hanya mengandalkan ilmu tidak dapat melenyapkan sifat malas pada diri seseorang. Sehingga kadang dijumpai orang yang ilmunya banyak, namun amalnya kurang banyak. Ilmu semata juga tidak dapat membendung hasrat nafsu. Ada orang yang mengetahui bahwa sesuatu itu tidak baik, namun dorongan keserakahan lebih kuat sehingga seseorang misalkan melakukan korupsi, kolusi dan lainnya.

Adapun dzikir bila dilakukan dengan rutin, benar dan ikhlas, maka dapat menghilangkan malas, serakah dan berbagai sifat negatif lainnya.

“Dzikir merupakan pondasi kokoh yang di atasnya dibangun kesempurnaan pendidikan ruhani. Tidak diragukan bahwa dzikir kepada Allah dengan metode sufi (Dalam konteks ini Dzikir TQN Suryalaya) sebagaimana dibuktikan dalam pengalaman praktis yang benar dapat merasakan manisnya ibadah dan ketaatan yang tidak dapat dirasakan orang mukmin biasa yang melupakan Allah dalam kebanyakan waktunya.” (Miftahus Shudur, juz 2, hlm. 9).

Kedua, dzikir merupakan amalan taqarrub (mendekatkan diri pada Allah) yang paling utama. Mengapa? Allah menilai amalan bukan hanya pada kuantitas atau banyaknya, namun juga menilai kualitasnya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
______
Rekomendasi