Keutamaan Hijrah, Momentum Tahun Baru Islam

Qalbu yang bertaqwa senantiasa mendorong untuk menghidupkan dakwah dan syiar Islam. Syiar dan dakwah ini perlu dukungan sumber daya manusia, kekuasaan (politik), ekonomi dan budaya (kultur).

Peringatan Tahun Baru Islam ini adalah peringatan Hari Besar Islam secara budaya yang merupakan bagian dari media dakwah dan ini penting untuk dilestarikan.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menyebut, dipilihnya hijrah sebagai nama penanggalan dalam dunia Islam karena beberapa pertimbangan.

Baca juga: Hijrah Menurut Abah Anom

Pertama, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah.

Kedua, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu kondisi atau keadaan, dan ingin berhijrah menuju kondisi yang lebih baik.

Ketiga, Al Qur’an memberi penghargaan bagi orang-orang yang berhijrah.

وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا }

Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Surah An-Nisā’: 100]

Konsep hijrah Nabi Saw tidak identik dengan perjalanan eksodus yang mengisyaratkan kekalahan adan kepasrahan.

Baca juga: Psikologi Hijrah

Hijrah bukan semata hanya transformasi secara fisik atau mobilitas dari suatu tempat ke tempat lain. Tapi bertransformasi dari yang buruk menuju yang baik, dari yang baik menuju yang lebih baik.

Dalam khazanah klasik umat Islam kita bisa menemukan para ulama dari generasi ke generasi yang hijrah mengembara dalam mencari ilmu dari satu kota ke kota lain demi menemui Masyayikh dan maha guru. Seperti Irak, Iran, Suriah, Mesir, Yaman, dan lain sebagainya.

Dikisahkan, Abu Ayyub Al Anshari, sahabat Nabi Saw harus menempuh perjalanan dari Madinah ke Mesir yang jaraknya ribuan kilometer, memerlukan 1 bulan lebih perjalanan dengan unta. Perjalanan dilakukan untuk menemui seorang sahabat Nabi Saw, Uqbah bin Amir hanya untuk menanyakan satu hadis nabi saja dari orang yang mendengar hadis itu langsung dari Rasulullah Saw.

KH. Ahsin Sakho menegaskan, semua ilmu keislaman yang kita temui hari ini adalah hasil perjuangan hijrah para ulama terdahulu.

Baca juga: Yuk Hijrah Secara Growth Mindset

Saat hijrah ke Madinah, Nabi Saw membangun peradaban. Menata kehidupan masyarakat yang harmonis dan maju dengan munculnya Piagam Madinah, yang diakui oleh pakar sebagai konstitusi pertama di dunia dan paling lengkap dalam sejarah.

Konsensus atau kesepakatan dalam Mitsaqul Madinah (Piagam Madinah) ini kemudian menjadi inspirasi pendiri bangsa untuk menetapkan Pancasila sebagai konsensus kebangsaan.

Buah dari hijrah muncul kehidupan masyarakat Madinah yang menerapkan nilai-nilai egaliter, moderat, toleran dan penuh rahmat patut dijadikan role model bagi kehidupan negara manapun.

Rekomendasi