IAILM Suryalaya Gelar Seminar Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme

Institut Agama Islam Latifah Mubrokiyah (IAILM) Pondok Pesantren Suryalaya kerja sama dengan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya menggelar seminar dengan tema “Pencegahan dan Penanggulangan Ektrimisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme”. Acara dihelat di gedung Tarminah Bakti Kampus IAILM, Kamis (21/10).

Acara yang dihadiri sebanyak 110 orang, perwakilan dosen dan mahasiswa IAILM ini dibuka secara resmi oleh Rektor IAILM Suryalaya, Dr. H. Asep Salahudin, MA. Nampak hadir pejabat Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya yang diwakili Kasi Kewaspadaan Daerah, Piping Novianti, S.IP., MM.

“Seminar ini sangat luar biasa, tema yang diusung memiliki keterkaitan dengan dua hari besar yaitu maulid nabi Muhammad Saw dan hari santri nasional”, ucap Asep saat membuka gelaran seminar. Baca juga…

IAILM-Suryalaya-Gelar-Seminar-Pencegahan-3
Rektor IAILM memberikan sambutan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, peringatan maulid nabi Muhammad Saw sejatinya meneladani akhlaknya Rasulullah Saw yang dalam proses penyebaran Islamnya menampilkan bahwa Islam adalah rahmatan lilalamin. Penyebaran Islam tidak dilakukan dengan cara kekerasan.

Sementara hari santri mengingatkan akan perjuangan dalam memerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui jiwa nasionalisme. Ketika dua nilai ini (rahmatan dan nasionalisme) ini terus dibangun, maka sikap ekstrimisme di Indonesia dengan sendirinya akan hilang, pungkasnya.

Menurut Piping Novianti, S.IP., MM., seminar ini bertujuan mensosialisasikan program pencegahan dan penanggulangan ektrimisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di kalangan mahasiswa.

Mahasiswa menjadi pilihan karena sangat rentan disusupi berbagai infromasi termasuk isu-isu radikalisme dan ekstimisme. Melalui sosialisasi ini, ucap Piping, mahasiswa diharapkan mampu memilah dan memilih infromasi mana yang baik dan tidak baik, sehingga mereka bisa terhindar dari paham radikalisme. Baca juga…

Tampil sebagai narasumber, Wakil Rektor I IAILM, Dr. M. Kodir, M.Si. dan Dr. KH. Utawijaya Kusumah. M. Kodir menyampaikan materi tentang Deradikalisasi dalam Perspektif Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Dalam makalahnya, Kodir menyampaikan bahwa deradikalisasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghilangkan pemahaman, keyakinan, dan tindakan radikal seseorang atau sekelompok orang. Sementara radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

IAILM-Suryalaya-Gelar-Seminar-Pencegahan-2

“Munculnya radikalisme di masyarakat disebabkan oleh beberapa hal yaitu pemahaman agama yang lemah, sosial budaya, psikologis (internal), ekonomi, political opportunity structure, dan lemahnya nasionalisme dan humanisme,” ujar Ketua Lembaga Dakwah TQN Pondok Pesantren Suryalaya Pusat tersebut,

Dalam perspektif TQN Pondok Pesantren Suryalaya, tegas dia, munculnya radikalisme disebabkan oleh munculnya penyakit-penyakit hati yang ada dalam hati manusia. Penyakit itu antara lain nafsu lawwamah, ghaflah, menganiaya (dzalim) hawa nafsu, pemarah, bodoh, dan lain-lain. Bagaimana solusinya? Dalam perspektif TQN Suryalaya adalah dengan mengamalkan amaliah TQN Pondok Pesantren Suryalaya yaitu talqin dzikir, mengamalkan dzikir, khataman, manakib, shalat-shalat sunnah, riyadhah, dan mandi taubat, pungkasnya.

Menurut Dr. KH. Utawijaya Kusumah, saat ini masih ada situasi dan kondisi yang harus diwaspadai kita bersama. Di antaranya masih ada eks teroris kembali menjadi teroris, radikalisme /violent extrimisme masih ada, kekerasan atas nama agama masih terjadi, masih ada ancaman terhadap NKRI dan Pancasila, moderat – mayoritas tapi kurang aktif, radikal – minoritas tapi sangat aktif (punya link internasional punya dana dan konsepsional), masjid, pesantren, kampus sudah dimasuki radikalisme, dan kelompok teroris.

IAILM-Suryalaya-Gelar-Seminar-Pencegahan-4
Rektor IAILM menyerahkan plakat pada Kasi Kewaspadaan Daerah.

Di akhir makalahnya Utawijaya menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi. Menurutnya kampus memiliki tugas; pertama, i’dadul mutafaqqihina fiddiin, yaitu menyiapkan generasi muda yang memiliki kedalaman ilmu agama. Kedua, himayatuddiin, yaitu melindungi agama dari pengaruh al-’aqaid al-fasidah (akidah sesat) dan al-afkar al-munharifah (pemikiran melenceng), himayatul ummah ‘anil afkar al-munharifah, yaitu melindungi masyarakat dari bahaya pemikiran yang melenceng salah satunya radikalisme. Baca juga…

Ketiga, himayatud daulah, yaitu melindungi negara dari rongrongan radikalisme agama dan radikalisme sekuler, dan keempat, islahul ummah, yaitu melakukan perbaikan umat melalui dua cara (Q.S. At-Taubah:122) Tafaqquh fiddiin (memperdalam ilmu agama) dan Liyundziruu qaumahum (memperhatikan kebutuhan umat), sehingga melahirkan generasi rijaal al-islah (aktor-aktor perbaikan).

#iailm #kesbangpol #terorisme

Rekomendasi